Rabu, 28 Oktober 2026

Cara Cuan dari Threads + Shopee Affiliate: Strategi Jitu Modal Tulisan Tanpa Ribet Bikin Video

‎ ‎‎

‎
‎Mau dapat tambahan penghasilan dari rumah tapi malas atau nggak jago edit video?

Tenang, kamu tidak sendirian. Saat ini, ada cara baru yang lagi *booming* dan terbukti ampuh buat para pejuang cuan daring: kombinasi Threads dan Shopee Affiliate
‎
‎ Audiens di Threads cenderung lebih suka membaca ulasan jujur dan cerita personal ketimbang langsung diserang iklan hard-selling.
‎



‎Lalu, bagaimana sih cara memaksimalkan Threads untuk mendatangkan klik dan komisi Shopee Affiliate? Yuk, simak panduan lengkapnya di bawah ini!
‎
‎
‎
‎1. Fondasi Utama: Siapkan Akun dan Sambungkan dengan Benar
‎
‎Sebelum mulai membuat konten, pastikan “dapur” kamu sudah siap agar setiap klik dari pembaca benar-benar tercatat sebagai komisi:
‎
‎Buka Pengaturan Akun

‎ Pastikan akun Threads kamu tidak diatur sebagai privat (Public), agar jangkauan utas (threads) bisa menyebar luas ke pengguna baru.
‎
‎Hubungkan ke Shopee Affiliate

‎ Masuk ke dashboard Shopee Affiliate, pilih menu media sosial, lalu daftarkan tautan akun Threads kamu agar sistem tracking berjalan akurat.
‎
‎Tentukan Niche (Tema Utama)

‎ Jangan membahas semuanya sekaligus. Pilih satu topik yang konsisten dan kamu kuasai, misalnya :
‎
‎1. Perlengkapan kerja work-from-home (WFH), yang paling banyak dicari contohnya barang ini 👇


‎2. Skincare pemula, yang paling banyak dicari contohnya barang ini 👇


‎3. Perlengkapan dapur estetik,yang paling banyak dicari contohnya barang ini 👇


‎4. Fashion sehari - hari, yang paling banyak dicari contohnya barang ini 👇

‎
‎
‎2. Rumus Konten Threads: Jual Solusi, Bukan Sekadar Link
‎
‎Kesalahan pemula biasanya langsung melempar link produk mentah-mentah di setiap postingan. Padahal, algoritma dan pengguna Threads sangat menghargai kenyamanan membaca. Gunakan alur penceritaan berikut agar postinganmu menarik perhatian:

‎
‎ A. Buat *Hook* yang Menghentikan Scrolling
‎
‎Kalimat pertama adalah penentu apakah utasmu akan dibaca atau dilewati begitu saja. Gunakan angle yang menyentuh masalah nyata atau memancing rasa penasaran.
‎
‎*Contoh Hook Masalah: "Sering gak sadar meja kerja jadi kelihatan sumpek padahal cuma ketambahan 2 barang kecil?"
‎
‎ *Contoh Hook Manfaat: "Ternyata barang seharga 30 ribuan ini bikin rutinitas beberes rumah jadi hemat waktu separuhnya."

‎
‎B. Terapkan Teknik Storytelling
‎
‎Ceritakan pengalaman pribadi, keluh kesah yang relate, atau ulasan jujur mengenai masalah yang sering dihadapi audiens. Posisikan produk afiliasi yang kamu tawarkan bukan sebagai iklan, melainkan sebagai alat bantu atau solusi atas masalah tersebut.

‎
‎C. Gunakan Format Utas yang Rapi
‎
‎Jika utasmu panjang, pecah menjadi beberapa bagian (misalnya 3 sampai 5 utas). Simpan tautan afiliasi pada balasan (reply) di utas kedua atau arahkan mereka ke satu link utama yang rapi di profil bio kamu.
‎

‎
‎3. Strategi Harian Agar Cuan Mengalir Deras
‎
‎Kunci sukses di platform berbasis teks seperti Threads terletak pada konsistensi dan interaksi:
‎
‎1. Rutin Posting Setiap Hari: 
‎Buat setidaknya satu utas utama berkualitas per hari yang membahas tips, checklist, atau rekomendasi produk yang solutif.
‎
‎2. Porsi Interaksi Lebih Besar
‎ Luangkan waktu lebih banyak untuk membalas komentar atau berinteraksi dengan audiens (misalnya rasio 20% membuat konten, 80% aktif membalas komentar). Komunitas yang terbangun erat akan jauh lebih loyal mengklik rekomendasi produkmu.
‎
‎3. Manfaatkan Fitur Visual Pendukung 
Walau berbasis teks, menyisipkan 1 foto asli atau cuplikan video pendek yang estetik di dalam utas terbukti bisa mendongkrak minat baca dan engagement audiens.
‎
‎
‎
‎Kesimpulan
‎
‎Memulai cuan lewat Shopee Affiliate di Threads adalah pilihan cerdas bagi siapa saja yang ingin membangun penghasilan pasif modal tulisan. Kuncinya ada pada kesabaran, konsistensi membangun personal branding, serta cara penyampaian yang jujur dan solutif.
‎
‎Sudah siap meraup komisi pertamamu minggu ini? Yuk, rapikan profil Threads-mu sekarang dan mulai bagikan cerita inspiratifmu!
‎

‎
‎Bagikan artikel ini ke teman-temanmu yang ingin cari cu tambahan dari rumah!*

Rekap Cerita KHW Part 400 - Pulang (Nadia Omara) Dimas Bertahan demi Numpang Hidup Gratis

 Ia Pergi dengan Rahasia yang Tak Terungkap—Lalu Sebuah Surat Membuka Semua Kebohongan


Artikel ini merangkum kisah yang disampaikan dalam video KHW Spesial Part 400 berjudul “Penyesalan Selalu Datang Terakhir”. Nama dan lokasi dalam cerita disamarkan. Bagian tentang kejadian gaib maupun dugaan tindak kriminal merupakan narasi dan kesaksian dalam video, bukan fakta yang diverifikasi secara independen.



Dari luar, keluarga Santi dan Edo terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia. 

Edo memiliki usaha jual-beli buah yang berjalan baik, sementara Santi mengurus rumah dan putri mereka, Tata. Mereka tampak rukun dan berkecukupan—setidaknya menurut orang-orang di sekeliling mereka.

Namun, di balik rumah yang terlihat tenteram itu, tersimpan sebuah rahasia. Rahasia tersebut baru terkuak setelah Santi meninggal dan berbagai kejadian janggal membuat keluarga serta orang-orang terdekatnya mempertanyakan kembali apa yang sebenarnya terjadi.


Keluarga yang tampak baik-baik saja

Kisah ini diceritakan oleh Rizki, Fajar, dan Dimas. Rizki berteman dekat dengan Fajar sejak kecil. Ia juga cukup akrab dengan kakak Fajar, Santi, dan kerap berkunjung ke rumahnya.

Beberapa hari sebelum kabar duka datang, Rizki sempat melihat mata Santi lebam. Saat ditanya, Santi mengatakan bahwa ia baru saja menangis. Rizki merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia sungkan untuk bertanya lebih jauh.

Petunjuk lain datang dari Tata, putri Santi yang masih kecil. Dengan polos, Tata bercerita bahwa ayahnya pernah melempar pakaian dan memukul pipi ibunya. Rizki mulai mencurigai kemungkinan adanya kekerasan di rumah itu. Namun, saat ia menceritakan kecurigaannya kepada Fajar, Fajar sulit mempercayainya. Baginya, Edo adalah sosok yang baik dan tak mungkin menyakiti kakaknya.




Tak lama kemudian, Fajar mendapat kabar bahwa Santi meninggal di rumahnya. Keluarga diberi tahu bahwa Santi mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam suasana duka dan kebingungan, mereka menerima penjelasan tersebut dan segera mengurus pemakamannya.


Kejadian janggal mulai bermunculan

Sesudah pemakaman, warga kampung mulai mengalami berbagai peristiwa yang mereka anggap tidak biasa. Sebuah bingkai foto pernikahan jatuh dan pecah, kotak amal disebut bergerak sendiri, sementara sebagian warga mengaku mendengar ketukan atau melihat benda-benda berpindah.

Salah satu peristiwa yang paling membekas terjadi ketika seorang warga mengalami kesurupan. Menurut cerita, ia berbicara dengan suara yang dikenali sebagai suara Santi dan berulang kali menyebut nama Edo.

Ayah Rizki juga mengaku pernah melihat sosok perempuan bermukena putih yang menyerupai Santi di masjid. Sebelum sosok itu menghilang, ia kembali menyebut nama Edo. Dalam kisah ini, kemunculan-kemunculan tersebut membuat keluarga bertanya-tanya: apakah ada pesan yang belum tersampaikan?


Pesan dari sahabat lama

Beberapa waktu setelah kematian Santi, Maya—sahabatnya sejak SMA—menghubungi Fajar. Maya terkejut saat mengetahui bahwa Santi sudah meninggal. Ia mengaku sempat didatangi sosok yang sangat mirip dengan sahabatnya itu.

Dalam pertemuan yang diceritakan Maya, sosok tersebut memintanya menyimpan percakapan lama mereka dan menyampaikan isi curhatan itu kepada keluarga Santi. Maya kemudian menunjukkan pesan-pesan yang berisi cerita tentang pertengkaran Santi dengan Edo. Dari percakapan tersebut, keluarga mulai melihat kemungkinan bahwa Santi pernah mengalami kekerasan.

Meski demikian, keluarga masih sulit menerima kecurigaan itu. Mereka mengenal Edo sebagai orang yang baik dan merasa belum memiliki bukti yang cukup untuk menuduhnya.

Dimas menyaksikan kondisi Edo berubah

Sementara itu, Dimas—yang bekerja di lapak buah milik Edo—mulai tinggal di rumah Edo. Ia menceritakan bahwa rumah tersebut terasa sunyi dan dingin. Pada suatu malam, Dimas mengaku melihat sosok mengerikan menindih dan mencekik Edo. Pada kesempatan lain, ia melihat sosok serupa bergelantungan di kusen pintu dapur, tempat Santi disebut meninggal.

Menurut Dimas, kondisi Edo semakin memburuk. Tubuhnya makin kurus, wajahnya pucat, dan perilakunya berubah. Ia sering melamun, tampak ketakutan, bahkan terdengar menangis serta meminta ampun pada malam hari.

Rizki kemudian datang bersama Ahmad, seorang teman yang dalam cerita digambarkan memiliki kemampuan melakukan rukiah. Ahmad membantu Edo dan menasihatinya agar bertobat. Ia juga menyampaikan dugaan bahwa Edo terlibat dalam praktik pesugihan dan memiliki hubungan dengan makhluk gaib. Dugaan ini menjadi titik awal keluarga menelusuri kembali kejadian-kejadian sebelumnya.


Penyelidikan membuka kejanggalan baru

Keluarga Santi mulai mempertanyakan keterangan awal mengenai kematiannya. Dalam video, diceritakan bahwa orang-orang yang mengaku sebagai polisi dan dokter saat pemeriksaan ternyata bukan petugas dan tenaga medis resmi. Tempat yang disebut sebagai rumah sakit pun dikisahkan sebenarnya adalah klinik yang digunakan untuk praktik ilegal.

Temuan tersebut memperkuat kecurigaan keluarga bahwa kematian Santi mungkin telah ditutupi. Namun, dalam video tidak ditampilkan dokumen atau hasil penyelidikan resmi yang dapat diperiksa penonton.

https://s.shopee.co.id/9KjB4iaIQQ


Lip Cream Ombre Viral OMG


Setelah Edo meninggal, Dimas menemukan dua surat yang ditujukan kepada ayah Edo dan ayah Santi. Dalam surat itu, sebagaimana dibacakan dalam video, Edo mengakui keterlibatannya dalam praktik pesugihan dan meminta maaf kepada orang-orang yang terdampak.

Surat itu juga memuat pengakuan tentang pertengkaran dengan Santi. Menurut isi surat yang dikisahkan dalam video, Santi telah lama curiga terhadap benda-benda mencurigakan di rumah. Pertengkaran mereka memburuk dan melibatkan kekerasan fisik. Pada suatu hari, Santi mendengar pembicaraan Edo dengan seseorang mengenai tumbal. Ia kemudian berencana membawa Tata pergi.

Dalam pertengkaran berikutnya, Edo mengaku mencekik Santi hingga meninggal. Setelah itu, ia merekayasa kematiannya agar tampak seperti bunuh diri, dengan bantuan orang-orang yang menyamar sebagai petugas dan tenaga medis.


Penyesalan yang datang terlambat

Video kemudian mengisahkan bahwa Santi memang telah dipilih sebagai tumbal berikutnya dalam praktik pesugihan yang dilakukan Edo, tetapi ia meninggal sebelum ritual yang direncanakan berlangsung. Setelah kematian Santi, Edo disebut mendapat tuntutan untuk menyerahkan Tata sebagai pengganti. Ia menolak dan terus mengalami gangguan—menurut kesaksian yang disampaikan dalam cerita—hingga akhirnya meninggal dunia.

Dalam suratnya, Edo juga meminta agar aset yang disebut berasal dari praktik pesugihan dijual dan hasilnya disumbangkan. Ia ingin rumah yang dibangun dari hasil kerja bersama Santi diberikan kepada Tata. Pesan terakhirnya menunjukkan bahwa ia menyesali perbuatannya dan ingin putrinya tetap terlindungi.

Namun, penyesalan itu tidak dapat mengembalikan Santi. Keluarga yang ditinggalkan tetap harus menanggung kehilangan, kebingungan, dan luka yang panjang.




Pelajaran dari kisah ini

Kisah ini disampaikan dalam balutan horor, tetapi inti yang paling kuat justru menyangkut persoalan keluarga dan kekerasan. Tanda-tanda seperti lebam, perubahan perilaku, atau cerita anak tentang kekerasan tidak seharusnya diabaikan hanya karena seseorang dikenal baik oleh lingkungan sekitarnya.

Video ini juga mengingatkan bahwa ketika kematian terasa janggal, keluarga berhak mencari informasi yang jelas dan meminta bantuan pihak berwenang. Cerita paranormal dalam video merupakan bagian dari kesaksian para narasumber; bagi pembaca, bagian tersebut sebaiknya dipahami sebagai narasi yang mereka sampaikan, bukan kesimpulan yang telah dibuktikan secara independen.

Pada akhirnya, kisah Santi dan Edo adalah cerita tentang rahasia yang lama tersembunyi, kebohongan yang akhirnya terbongkar, dan penyesalan yang datang setelah semuanya terlambat. Kebenaran akhirnya terungkap—tetapi tidak semua kehilangan bisa diperbaiki.

Selasa, 07 Agustus 2018

Cara (memperbarui) repaint boneka barbie

Hai. Aku sasa. Slamat datang di blogku yah.... 😍

Nah kali ini aku mau berbagi tips dan kreasi aku.

REPAINT BARBIE YANG SUDAH LAMA



 

Lebih lengkap lagi liat di Yutub ini yah 
Tutorial Repaint Barbie ❤️

 


Minggu, 20 Mei 2018

JUAL BONEKA MONSTER HIGH MURAH TERPERCAYA




JUAL BONEKA MONSTER HIGH 

Jual boneka monster high Maul Monsteritas

1. Spectra Vondergeist @65k
2. Gigi Grant @70k
3. Invisi Billy @65k
4. Clawdeen Wolf @65k
5. Draculaura @124k

Yuk pecinta boneka monster high bisa beli via Shopee lebih aman dan terjamin. Gratis ongkir juga. Yuk klik link di bawah ini.

Belanja gratis ongkir di SHOPEE
⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️⬇️

https://shopee.co.id/gitaaa.petong/1172745025

Senin, 19 September 2016

Karier Pekerja Pada Pelayanan Ekonomi


Karier Pekerja Pada Pelayanan Ekonomi

B.    KARIR
Menurut Gibson dkk. (1995: 305)
Karir adalah rangkaian sikap dan perilaku yang  berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja selama rentang waktu kehidupan seseorang dan rangkaian aktivitas kerja yang terus berkelanjutan. Dengan demikian karir seorang individu melibatkan rangkaian pilihan dari berbagai macam kesempatan.

Menurut Greenhaus (1987: 5) yang dikutip oleh Irianto (2001:93) terdapat dua pendekatan untuk memahami makna karir, yaitu: pendekatan pertama memandang karir sebagai pemilikan (aproperty) dan/atau dari occupation atau organisasi. Pendekatan ini memandang bahwa karir sebagai jalur mobilitas di dalam organisasi yang tunggal seperti jalur karir di dalam fungsi marketing, yaitu menjadi sales representative, manajer produk, manajer marketing distrik, manajer marketing regional, dan wakil presiden divisional marketing  dengan berbagai macam tugas dan fungsi pada setiap jabatan.

Pendekatan kedua memandang karir sebagai suatu property  atau kualitas individual dan bukan occupation atau organisasi. Pendekatan ini memandang bahwa karir merupakan perubahanperubahan nilai, sikap, dan motivasi yang terjadi pada setiap individu/pegawai. Berdasarkan kedua pendekatan tersebut definisi karir adalah sebagai pola pengalaman berdasarkan pekerjaan (work-related experiences) yang merentang sepanjang perjalanan pekerjaan yang dialami oleh setiap individu/pegawai dan secara luas dapat dirinci ke dalam obyective events. Salah satu contoh untuk menjelaskannya melalui serangkaian posisi jabatan/pekerjaan, tugas atau kegiatan pekerjaan, dan keputusan yang berkaitan dengan pekerjaan (workrelated decisions).

C.    PENGEMBANGAN KARIR
Dari pendapat para Pakar atau Ahli dibidang MSDM tentang pengembangan karier, berikut adalah definisi dari Pengembangan Karier.

Menurut Vithzal Rivai (2009 : 274 )
Pengembangan karir adalah proses peningkatan kemampuan kerja individu yang dicapai dalam rangka mencapai karir yang di inginkan.

Menurut T. Hani Handoko ( 2003 : 123 )
Pengembangan karir merupakan peningkatan pribadi yang dilakukan seseorang untuk mencapai suatu rencana karir.

Dari definisi diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan karir merupakan suatu proses dalam peningkatan dan penambahan kemampuan seseorang karyawan yang dilakukan secara formal dan berkelanjutan untuk mencapai sasaran dan tujuan karirnya.

Pengembangan karir merupakan tanggung jawab suatu organisasi yang menyiapkan karyawannya dengan kualifikasi dan pengalaman tertentu, agar pada waktu yang dibutuhkan organisasi sudah memiliki karyawan dengan kualifikasi tertentu. Jadi yang dilakukan karyawan adalah bekerja sebaik mungkin, mengikuti semua pelatihan yang diberikan, menunggu kesempatan kenaikan jabatan dan biasanya menurut saja menduduki jabatan yang ditawarkan oleh perusahaan.

Dari pengembangan karir pegawai, mempunyai tujuan dan manfaat yang dicapai oleh organisasi maupun individu (pekerja), antara lain:
·         Membantu pencapaian tujuan individu dan perusahaan.
·         Menunjukkan hubungan kesejahteraan karyawan, yang artinya perusahaan merencanakan karir karyawan dengan meningkatkan kesejahteraannya agar karyawan lebih tinggi loyalitasnya.
·         Membantu karyawan menyadari kemampuan potensi mereka, pengenmabangan karir membantu menyadarkan karyawan akan kemampuan untuk menduduki suatu jabatan tertentu sesuai dengan potensi dan keahliannya.
·         Memperkuat hubungan antara karyawan dan perusahaan.
·         Membuktikan tanggung jawab sosial, cara ini menciptakan iklim kerja yang positif dan karyawan menjadi lebih bermental sehat.
·         Membantu memperkuat pelaksanaan program perusahaan.
·         Menggiatkan analisis dari kesleuruhan karyawan.
·         Menggiatkan suatu pemikiran jarak waktu yang panjang, hal ini karena penempatan suatu posisi jabatan memerlukan persyaratan dan kualifikasi yang sesuai dengan posisinya.

Pengembangan akrir juga pada dasarnya memiliki manfaat yang hampir sama dengan apa yang dikemukakan diatas, namun manfaat pengembangan ini ada kekhususan karena sudah menyangkut kegiatan pendidikan dan latihan.

D.    PEKERJA
Buruh, Pekerja, Tenaga Kerja atau Karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainya kepada Pemberi Kerja atau Pengusaha atau majikan.
Buruh/pekerja dibagi atas 2 klasifikasi besar:
·           Buruh profesional - biasa disebut buruh kerah putih, menggunakan tenaga otak dalam bekerja
·           Buruh kasar - biasa disebut buruh kerah biru, menggunakan tenaga otot dalam bekerja

E.     PELAYANAN
Pelayanan menurut Lovelock didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi yang menciptakan dan memberikan manfaat bagi pelanggan pada waktu dan tempat tertentu, sebagai hasil dan tindakan mewujudkan perubahan yang diinginkan dalam diri atau atas nama penerima jasa tersebut.
Pengertian pelayanan menurut Kotler yaitu setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Jadi pelayanan dapat didefinisikan sebagai tindakan atau kinerja yang menciptakan manfaat bagi pelanggan dengan mewujudkan perubahan yang diinginkan dalam diri atau atas nama penerima. Sehingga pelayanan itu sendiri memiliki nilai tersendiri bagi pelanggan dalam hubungannya dengan menciptakan nilai-nilai pelanggan.
Christian Gronroos mengemukakan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan, yaitu :
1.    Menjaga dan memperhatikan , bahwa pelanggan akan merasakan karyawan dan sistem opersional yang ada dapat menyelesaikan problem mereka.
2.    Spontanitas, dimana karyawan menunjukkan keinginan untuk menyelesaikan masalah pelanggan.
3.    Penyelesaian masalah, karyawan yang berhubungan langsung dengan pelanggan harus memiliki kemampuan untuk menjalankan tugas berdasarkan standar yang ada, termasuk pelatihan yang diberikan untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik.
4.    Perbaikan, apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan harus mempunyai personel yang dapat menyiapkan usah-usaha khusus untuk mengatasi kondisi tersebut.

Menurut Tjiptono, ada 4 karakteristik pokok pelayanan (jasa) yang membedakannya dengan barang , yaitu :
1.    Intangibility : tidak ada bentuk fisiknya sehingga tidak dapat dilihat, oleh karena itu pemasar menggunakan sejumlah alat untuk membuktikan kualitas pelayanan (jasa) yang ditawarkan.
2.    Inseparability : pelayanan (jasa) yang dijual tidak terpisahkan dari orang yang memasarkan.Pelayanan (jasa) diproduksi dan dikonsumsi pada saat yang bersamaan. Service provider(penyedia jasa) dan customer (pelanggan) akan bertemu secara langsung maupun tidak langsung sehingga hal ini mempengaruhi kualitas pelayanan (jasa) dan karena itu pula tidak dapat distandarisasi.
3.    Variability : pelayanan (jasa) yang beragam sangat tergantung siapa yang menyajikan, oleh karena itu untuk dapat mengendalikan kualitas. Contoh, PLN melakukan seleksi yang ketat dan pelatihan yang tersistem bagi SDMnya, menstandarisasi proses kinerja pelayanan (jasa) di seluruh internal PLN, memonitor kepuasan pelanggan melalui survei atau kotak saran.
4.    Perishability : Karena sifatnya yang tidak dapat disimpan, maka PLN harus mampu menjaga kontinuitas pasokan listrik .
A.     EKONOMI
Ekonomi berasal dari  kata oikonomia (yunani) yang berarti Oikos = rumah tangga, nomos = aturan.
Ekonomi adalah mempelajari daya upaya manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup di masyarakat dan meningkatkan kesejahtraannya.
Ekonomi adalah mempelajari persoalaan memilih kemungkinan pengggunaan sumber daya yang terbatas agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidup yang tidak terbatas.

Jadi pengertian Karier Pekerja Pada Pelayanan Ekonomi adalah rangkaian sikap dan perilaku yang  berkaitan dengan pengalaman dan aktivitas kerja yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk menciptakan manfaat bagi pelanggan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup di masyarakat dan meningkatkan kesejahtraannya.

Contoh Pelayanan Ekonomi:
·         Pelayanan nasabah di Bank dengan menyediakan Customer Servise (CS), sehingga nasabah bank lebih mudah apabila ingin bertanya maupun mengalami kesulitan.
·         Pada aspek ekonomi kesehatan diberdayakannya obat generic dengan harga terjangkau agar dapat dibeli oleh semua kalangan. 

PEKERJAAN SOSIAL INDUSTRI

PEKERJAAN SOSIAL INDUSTRI

A.    Definisi Pekerjaan Sosial Industri
Pekerjaan sosial industri dapat didefinisikan sebagai lapangan praktik pekerjaan sosial yang secara khusus menangani kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan dan sosial di dunia kerja melalui berbagai intervensi dan penerapan metoda pertolongan yang bertujuan untuk memelihara adaptasi optimal antara individu dan lingkungannya, terutama lingkungan kerja. Dalam konteks ini, pekerja sosial dapat menangani barbagai kebutuhan individu dan keluarga, relasi dalam perusahaan, serta relasi yang lebih luas antara tempat kerja dan masyarakat (NASW, 1987) atau yang lebih dikenal dengan istilah tanggung jawab perusahaan (corporate social responbility)(suharto, 2006b).
Pekerjaan sosial industri menggunakan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai pekerjaan sosial dalam pemberian pelayanan , program, dan kebijakan bagi para pegawai dan keluarganya, manajemen perusahaan, serikat-serikat buruh dan bahkan masyarakat yang berada di sekitar perusahaan. Inti pekerjaan sosial industri meliputi kebijakan, perencanaan, dan pelayanan sosial pada persinggungan antara pekerja sosial dan dunia kerja. (Suharto 2006b). Kegiatan pekerjaan sosial industri antara lain adalah program bantuan (bagi pegawai), promosi keshatan , manajemen perawatan kesehatan, tindakan alternatif affirmatif (pembelaan), penitipan anak, perawatan lanjut usia, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pengembangan organisasi, pelatihan, dan pengembangan karir, konseling bagi penganggur atau yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responbility), tunjangan-tunjangan pegawai, keamanan dan keselamatan kerja, pengembangan jabatan, perencanaan sebelum dan sesudah pensiun serta bantuan pemindahan kerja.
Konsep pekerjaan sosial industri lebih luas dari konsep tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun masyarakat (community development). Pekerjaan sosial industri mencangkup pelayanan sosial yang bersifat internal dan eksternal, pekerjaan sosial industri melibatkan program-program bantuan bagi pegawai, seperti pelayanan konseling. Terapi kelompok, dan pengembangan sumber daya manusia. Secara eksternal, pekerjaan sosial industri, berwujud dalam berbagai bentuk program CSR termasuk di dalamnya strategi dan program pengembangan masyarakat, pengembangan kebijakan sosial, dan advokasi sosial.
Hubungan antara PSI, CSR, dan ComDev


                                                                                    





B.     Sejarah dan Perkembangan Pekerjaan Sosial Industri
Pekerjaan sosial industri terlahir dalam konteks pertumbuhan masyarakat industri. Pekerjaan sosial industri pertama kali muncul tahun 1800-an. Para pekerja sosial mulai terlibat di berbagai perusahaan Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat sekitar tahun 1890, sedangkan di Perancis tahun 1920. Pada masa itu, beberapa perusahaan di sana menyewa apa yang disebut ” sekretaris kesejahteraan”,”pekerja kesejahteraan industri” , atau ”sekretaris sosial”. Di Jerman, pekerja sosial atau sosiater industri ini dikenal dengan nama arbeiter sozial, sedangkan di Perancis dinamakan consul de familie atau conseillers du travail (Suharto, 2006ab).
Pekerja sosial memiliki peranan penting dalam pemberian pelayann sosial, baik yang bersifat pencegahan, penyembuhan maupun pengembangan dalam sebuah perusahaan. Tugas utamanya adalah menangani masalah kesejahteraan, kesehatan, keselamatan kerja, relaxi buruh dan majikan, serta perencanaan dan pengorganisasian program-program pengembangan masyarakat bagi komunitas yang ada di sekitar perusahaan (Suharto, 1997;2006b). Karena tugas utamanya menangani permasalahan sosial yang terkait dengan perusahaan, sosiawan industri ini dikenal pula dengan nama pekerja sosial kepegawaian atau occupational social worker (Strausser, 1989).
Menurut Freud, fokus pekerjaan sosial harus menyentuh dunia kerja, karena ia memberi tempat aman bagi seseorang dalam realitas sebuah komunitas manusia (human community). Pada tahun 1975, seorang pioneer pekerjaan sosial, Bertha Reynolds memberi komentar atas pendapat Freud yang dikemukakan pada tahun 1930 itu. Menurut Reynolds, ” tempat kerja yang merupakan sebuah persimpangan kehidupan (the crossroads of life) sering kali diabaikan sebagai sebuah komunitas manusia”.
Pernyataan Reynolds tidak lagi berlaku dewasa ini. Sekarang ini kita telah menyaksikan peningkatan yang luar biasa dalam hal perhatian dan kehadiran profesi pekerjaan sosial di dunia kerja. Semenjak tahun 1970-an., pekerja sosial telah menemukan bahwa tempat kerja bukanlah untuk bekerja saja, tetapi merupakan sebuah tempat yang penting dan unik di mana para pegawainya perlu diberi informasi mengenai pelayanan-pelayanan yang tidak selalu terkait dengan pekerjaan. Tempat kerja juga merupakan tempat dimana diagnosis aktual mengenai kebutuhan dan pelayanan sosial tertentu dapat diberikan. (suharto, 2006b)
Banyak pelayanan sosial di tempat kerja yang dapat diberikan pekerjaan sosial industri berkisar pada domain-domain fungsi-fungsi pekerjaan sosial tradisional seperti konseling bagi para pegawai. Dengan semakin canggihnya pendidiksn pekerjaan sosial dalam bidang industri, ekonomi, perencanaan, dan analisis kebijakan, asesmen keorganisasian, penelitian, pengembangan masyarakat, membuat pekarjaan sosial berkiprah dalam bidang industri yang bersifat non-tradisional, seperti pengembangan SDM dan organisasi, tanggung jawab sosial, dan filantropis perusahaan. Dengan demikian seperangkat pengetahuan pekerjaan sosial yang begitu luas yang berpadu dengan kebutuhan kompleks tempat kerja serta semakin meningkatnya individu yang bekerja di dunia bisnis yang memilih pekerjaan sosial sebagai ”karir kedua” telah meningkatkan peran pekerja sosial industri di dunia kerja.
Industri merupakan salah satu bidang garapan profesi pekerjaan sosial yang paling muda. Namun, akar sejarah pekerjaan sosial industri di AS beranjak pada akhir abad ke-18 dan semakin dikenal pada awal abad ke-19 saat di mana istilah ”kapitalisme kesejahteraan” (welfare capitakism) semakin populer dan saat ”sekretaris sosial” (social secretaries) dipekerjakan di perusahaan. Kapitalisme kesejahteraan merujuk pada berbagai tunjangan dan pelayanan sosial yang disediakan secara sukarela oleh majikan dalam upaya mensosialisasikan, menjaga, dan mengontrol tenaga kerja kasar yang sangat dibutuhkan pada masa revolusi industri (Suharto, 2006b)
Pemicu lain yang menyebabkan lahirnya pekerjaan sosial industri di AS yaitu berkaitan dengan upaya para majikan untuk mangatasi masalah yang diakibatkan oleh meningkatnya wanita yang memasuki dunia kerja setelah perang sipil. Menurut Brandes, permulaan pekerjaan sosial medis berakar pada suatu bentuk seksisme (sexism) akibat tumbuhnya bisnis dan majikan mengalami peningkatan pegawai wanita. Para majikan menghadapi kesulitan manangani masalah pegawai wanita yang ”ganjil” karena pada saat itu, fenomena pekerja wanita masih sangat sedikit. Sebagai solusinya yaitu dengan menyewa seorang spesialis. Spesialis yang pertama yaitu ibu Anggie Dunn yang disewa pada tahun 1875 sebagai sekretaris sosial pada perusahaan H.J. Heinz di Pittsburg ( Suharto, 2006b).
Dunn mungkin satu-satunya sekretaris kesejahteraan hingga tahun 1900 ketika banyak perusahaan mulai menyewa spesialis seperti dirinya. Pada tahun 1919, Biro Statistik Buruh melakukan survei terhadap 431perusahaan besar di As dan menemukan bahwa 141 perusahaan mempekerjakan sekretaris perusahaan secara full time, dan 154 perusahaan mempekerjakan sekretaris perusahaan secara kontrak dari luar perusahaan. Tahun 1926, sebesar 80% dari 1500 perusahaan besar di AS memiliki beberapa jenis program kesejahteraan (people, 1981). Meskipun belum tahun 1920 sebagian besar tahun lulusan sekolah tinggi pekerjaan sosial New York ( New York School of Social Work) bekerja pada settimng industri daripada setting lainnya, pekerja sosial yang terlatih secara profesional masih sedikit jmlahnya. Sebagian besar sekretaris kesejahteraan adalah wanita yang berpendidikan sebagai guru atau perawat. Salah seorang perawat, ibu Marrion T. Brockway disewa sebagai ”ibu kerumahtanggaan/ perawat tatalaksana” pada Perusahaan Asuransi Jiwa Metropolitan.
Pada pengumuman mengenai penunjukan dia tanggal 3 September 1919, fiske, presiden perusahaan itu menjelaskan tugas-tugas ibu Brockway sebagai berikut (Strausser, 1989;4):
Tugas ibu kerumahtanggaan akan dilakukan sesuai dengan sebutannya. Semua pegawai wanita dipersilakan berkonsultasi mengenai kesehatan kepegawaian, reklasi dengan rekan kerja, atasan atau anggota keluarga, dan urusan-urusan dan masalah-masalah pribadi jika ada. Ibu Brockway akan melihat kondisi-kondisi pelayanan sosial di kantor dan memberi nasihat berkenan dengan masalah-masalah di dalam dan luar perusahaan, penduduk sekitar perusahaan, serta dewan perusahaan ya g tinggal jauh dari para tetangga. Ide utama menunjuk seorang ibu kerumahtanggaan adalah para jurutulis wanita dapat memperoleh layanannya, meskipun ibu Brockway dapat pula memeberi nasihat pada jurutulis pria.  Usia dewasa, pengalaman luas, kecerdasan, dan kapasitasnya bersimpati, membuat ibu brockway cocok bagi pegawai wanita maupun pria. Dan semua juru tulis kita menjadi senang berkonsultasi dengan dia.
Dalam garis besar Carter mengelompokkan peranan sekretaris kesejahteraan ke dalam empat bidang tugas yang mencangkup(Suharto, 2005;2006b):
1.      Kesejahteraan fisik: kesehatan, keamanan, sanitasi, dan perumahan pegawai.
2.      kesejahteraan budaya: rekreasi, perpustakaan, pendidikan, dan akulturasi dasar mengenai dunia kerja dan budaya Amerika.
3.      Kesejahteraan personal: pelayanan casework (konseling perseorangan) bagi para pegawai dan keluarganya.
4.      kesejahteraan ekonomi: administrasi pinjaman dan pensiun dan bahkan perekrutan, pemecatan, dan penetapan gaji karyawan.
Karena kombinasi berbagai kekuatan, seperti ketidakpuasan karyawan, perubahan ekonomi, peningkatan pelayanan sosial yang disediakan pekerja sosial masyarakat, dan pergeseran ideologi (Strausser dan Phillips,1988), kehadiran pekerjaan sosial industri menghilang dari setting industri pada tahun 1920-an dan baru muncul kembali setelah perang dunia II. Saat itu pekerjaan sosial industri, tidak hanya memberikan pelayanan sosial untuk membantu orang beradaptasi secara personal terhadap dampak perang., tetapi juga pelayanan sosial yang memungkinkan mereka untuk lebih produktif pada saat produksi.
Pekerjaan sosial bertugas sebagai pemberi pelayanan sosial langsung dalam setting serikat buruh (Kyle.1994 dan Ronalds 1963) di pemerintah militer dan federal dan kantor militer (Stanlley,1944) serta sejumlah perusahaan swasta seperti Macy’s di New York (Evans, 1940), RCA Victor di Indianapolis (Coyle,1944) , J.Lhudson Departement Store dan perusahaan asuransi jiwa Metopolitan (Palevsky, 1945). Perkembangan Pekerjaan sosial modern dimulai sejak tahun 1960-an pada saat pembentukan dua program terpisah yang bertujuan menangani kebutuhan kesehatan mental karyawan. Program yang dibentuk oleh perusahaan Polaroid di Boston dan perusahaan pakaian Amerika Amalgamasi di kota New York itu dikendalikan oleh para pekerja sosial profesional dan mampu mencatat kesuksesan (Kurzman,1988).
Perkembangan pekerjaan sosial industri ini juga didorong dengan munculnya Pusat Kesejahteraan Sosial Industri (the Industrial Social Welfare Center) yang dibentuk tahun 1969 di sekolah pekerjaan sosial Columbia University di bawah arahan Hyman J. Weiner dan didanai oleh pelayanan sosial dan rehabilitasi, departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan, dan Kesejahteraan AS. Lembaga ini memiliki 3 tujuan yaitu:
a.                Membangun bank pengetahuan dan informasi berkaitan dengan pemberian pelayanan sosial terhadap populasi para pegawai.
b.                Menyediakan bantuan teknis dan pelayanan konsultasi terhadap serikat buruh, perusahaan bisnis, dan lembaga-lembaga sosial.
c.                Memberi kontribusi pada pendidikan pekerja sosial dan profesi pertolongan lainnya (CUSSW dalam Suharto, 2006). Lembaga tersebut sangat berhasil dalam mencapai tujuan ini.
Pada pertengahan tahun 1970-a, perkembangan pekerjaan sosial industri yang tadinya secara terkotak-kotak (terserak) mulai mengkerucut melalui gerakan yang terorganisir (Masi dalam Suharto 2006b). Kemajuan ini berasal dario beberapa sebab, antara lain:
1.                 Menurunkan afiliasi para pekerja sosial profesional dengan sektor publik (semula sebagian besar pekerja sosial di lembaga pemerintah);
2.                 Semakin banyaknya pekerja sosial yang membuka praktek mandiri (privat);
3.                 Perubahan angkatan kerja karena masuknya kaum wanita, minoritas, dan orang dengan kecacatan (ODK) ke dunia industri;
4.                 Disahkan sebagai peraturan dengan perundang-undang yang terkait dengan pekerjaan, seperti the Hughes Act, the Vocational Rehabilitation Act, The OCCUPATIONAL Safety and health Act, the Employee Retirement Income Security ACT, the Age Discrimination in Employment Act, dan Title VII of the Civil Rights Act;
5.                 Meningkatnya kesadaran sosial mengenai dampak tempat kerja terhadap kesehatan mental dan kecanduan alcohol di kalangan pegawai.
Selain lima kondisi di atas, semakin populernya pekerjaan sosial industri juga dipicu oleh profesionalisme pada program-program penanggulangan alkoholisme di tempat kerja, evolusi program-program bantuan bagi pegawai (Employee Asistance Programs/EAPs), serta dibentuknya program-program pelatihan di sejumlah sekolah pekerjaan sosial di seluruh AS dan Kanada yang ke;ak meningkatkan kesempatan kerja dan tersedianya pekerja sosial yang terlatih untuk posisi-posisi baru.
Jumlah pekerja sosial saat ini belum diketahui secara pasti. Namun, Asosiasi National Pekerja Sosial (National Association of Social Workers) AS menghimpun daftar alamat surat sekitar 2200 individu sebagai bagian dari survey nasional pekerjaan sosial industri yang dilaksanakan lembaga ini tahun 1985. Pada tahun 1987, tercatat ada 614 pekerja sosial berlisensi yang menjadi anggota the Association of Labor Management Administrators and consultans on Alcoholism(ALMACA), sebuah organisasi profesional utama yang mewakili para pekerja sosial yang bekerja di program-program bantuan (EAPs) bagi pegawai. Seperti dinyatakan oleh Googins (1987;37). ”Para pekerja sosial memegang posisi-posisi pimpinan dan menjadi kelompok profesional terdepan di asosiasi-asosiasi dunia kerja, seperti ALMACA, EASNA (Employeeassistance Society of North America) dan IASISW (International Association of Industrial Social Workers).
Pekerja sosial industri dewasa ini bekerja di sektor swasta, baik untuk organisasi laba maupun nir-laba di lembaga-lembaga pemerintah tingkat federal, negara bagian, dan lokal, di organisasi militer, dan serikat-serikat buruh. Survei national yang dilakukan di 39 sekolah pekerjaan sosial yang menyelenggarakan pelatihan-pelatihan pekerjaan sosial industri mengidentifikasikan bahwa 30% dari pekerja sosial industri bekerja di organisasi-organisasi swasta, 23% di kontraktor-kontraktor yang menyediakan pelayanan sosial bagi perusahaan-perusahaan besar, 17% di lembaga-lembaga pemerintah negara bagian dan lokal, 15% di serikat buruh dan 15% di lembaga pemerintahan federal (Maiden dan Hardcastle, 1985). Pekerja sosial industri mampu memberikan beragam pelayanan sosial di berbagai macam setting. Namun, sebagian besar setting pekerjaan sosial industri adalah di bidang-bidang yang berkaitan dengan program-program bantuan pegawai (EAPs).
C.    Bidang Garapan Pekerjaan Sosial Industri
1. Bidang Garapan Pekerja sosial
Guna mengenal lebih jauh fungsi dan peranan pekerjaan sosial, di bawah ini disajikan beberapa contoh bidang garapan atau setting utama yang sering kali menjadi tempat berkiprah para pekerja sosial yaitu antara lain:
1.                  Keluarga dan pelayanan anak: penguatan keluarga, konseling keluarga, pemeliharaan anak, dan adopsi, perawatan harian, pencagahan penelantaran, dan kekerasan dalam rumah tangga.
2.                  Kesehatan dan rehabilitasi: pendampingan pasien di rumah sakit, pengembangan kesehatan masyarakat, kesehatan mental. Rehabilitasi vokational, rehabilitasi pecandu obat dan alkohol, pendampingan ODHA, harm reduction programmer.
3.                  Pengembangan masyarakat: perencanaan sosial, pengorganisasian masyarakat, revitalisasi ketetanggaan, perawatan lingkungan hidup, kehutanan sosial, penguatan modal sosial, penguatan ekonomi kecil.
4.                  Jaminan sosial: skema asuransi sosial, bantuan sosial, social fund, JKSM, jaringan pengaman sosial.
5.                  Pelayanan kedaruratan: pengorganisasian bantuan: manajemen krisis, informasi dan rujukan, integrasi pengungsi, pengembangan peringatan dini masyarakat.
6.                  Pekerjaan sosial sekolah: konseling penyesuaian sekolah, manajemen perilaku pelajar, manajemen tunjangan biaya pendidikan. Pengorganisasian makan siang murid, peningkatan partisipasi keluarga dan masyarakat dalam pendidikan.
7.                  Pekerjaan sosial industri: program bantuan pegawai, penanganan stress, dan burnout, penempatan dan relokasi kerja, perencanaan pensiun, tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responbility)
2. Masalah yang ditangani Pekerja Sosial
            Berawal dari abad ke-14 di Inggris, masyarakat industri sangat ditentukan sistem pebrik. Pada zaman merkantilisme ini, pada awalnya laki-laki dan wanita bekerja di ladang atau pada perusahaan-perusahaan keluarga (informal) (Johnson,1984; Kartono, 1994).Hal ini memisahkan orang dewasa yang sebagian besar waktunya bekerja di pabrik dengan anak-anak yang ditinggalkan di rumah bersama keluarga besar atau tanpa pengawasan sama sekali. Pemisahan ini menjadi awal bagi dinamika keluarga dan masyarakat termasuk bagi munculnya permasalahan sosial yang diakibatkannya. Retaknya relasi sosial antara pekerja dan keluarganya, kurangnya kesempatan anak dalam meniru model peranan orangtua dan munculnya alinasi atau keterasingan pekerja dalam kehidupan masyarakatnya adalah beberapa contoh masalah sosial yang timbul akibat industrialisasi.
            Mekanisme dan otyomatisasi melahirkan rutinitas pekerjaan dan membuat tenaga manusia tampak semakin tidak penting. Para pekerja kerah biru maupun kerah putih merasa tidak bermakna dan terancam karena kapan saja dapat digantikan oleh saingannya, yakni mesin. Perubahan teknologi, penggantian tenaga kerja (shift), dan pemutusan hubungan kerja yang semakin menjadi fenomena dalam kehidupan sehari-hari sering menimbulkan kecemasan bagi para pekerja. Proses otomatisasi di As menggantikan sekitar 2 juta pekerjaan setiap tahunnya. Para pekerja yang merasa tidak berguna dan tidak berdaya dalam pekerjaanya seringkali membawanya ke rumah dan masyarakat. Johnson (1948:261) mengklasifikasikan akibat akibat industrialisasi yang bersifat negatif  terhadap kesejahteraan manusia ke dalam 5A yaitu:
a.       Alienation: perasaan keterasingan dari diri, keluarga, dan kelompok sosial yang menimbulkan apatis, marah, dan kecemasan.
b.      Alcoholism atau addiction: ketergantungan terhadap alkohol, obat-obat terlarang atau rokok yang dapat menurunkan produktivitas, meruasak kesehatan fisik dan psikis , dan kehidupan sosial seseorang.
c.       Absenteeism: kemangkiran kerja atau perilaku membolos kerja dikarenakan rendahnya motivasi pekerja, perasaan-perasaan malas, tidak berguna, tidak merasa memiliki perusahaan, atau sakit fisik dan psikis lainnya.
d.      Accidents: kecelakaab kerja yang diakibatkan oleh menurunnya konsentrasi pekerja atau oleh lemahnya sistem keselamaatan dan kesehatan lingkungan kerja.
e.       Abuse: bentuk-bentuk perlakuan salah terhadap anak-anak atau pasangan dalam keluarga (istri/suami), seperti memukul. Dan menghardik secara berlebihan yang ditimbulkan oleh frustasi, kebosanan, kelelahan di tempat pekerjaannya.
Beberapa permasalahan lainnya yang terkait dengan masalah industrialisasi adalah: diskriminasi di tempat kerja atau tindakan-tindakan tidak adil terhadap wanita, kaum minoritas, imigran, remaja, pensiunan, dan para penyandang cacat. Beberapa industri dan perusahaan kerap menimbulkan dampak negatif terhadap masyarakat di sekitarnya,sepeti polusi (udara, air,suara) dan kerusakan-kerusakan fisik dan psikis para pekerjanya. Para pekerja sosial industri dapat membantu dunia industri untuk mengidentifikasi dan mengatasi berbagai biaya sosial (social care) yang ditimbulkan oleh perusahaan.
            3. Tugas Pekerja Sosial Industri
Menurut Johnson (1984:263-264) ada 3 bidang tugas pekerja sosial yang bekerja di perusahaan antara lain:
a.       Kebijakan, perencanaan dan administrasi.
Bidang ini umumnya tidak melibatkan pelayanan sosial secara langsung. Sebagai contoh, perumusan kebijakan untuk peningkatan karir, pengadministrasian program-program tindakan afirmatif, pengkoordinasian program-program jaminan sosial dan bantuan sosial bagi para pekerja , atau perencanaan kegiatan-kegiatan sosial dalam departemen perusahaan.
b.      Praktik langsung dengan individu, keluarga, dan populasi khusus.
Tugas pekerja sosial dalam bidang ini meliputi intervensi krisis (crisis intervention), assesmen (penggalian) masalah-masalah personal, dan pelayanan rujukan, pemberian konseling bagi para pensiunan atau pekerja yang menjelang pensiun.
c.       Praktik yang mengkombinasikan pelayanan sosial langsung dan perumusan kebijakan sosial bagi perusahaan.
Para pekerja sosial telah memberikan kontribusi penting dalam memanusiakan dunia kerja. Mereka umumnya terlibat dalam konseling di dalam maupun di luar perusahaan, pengorganisasianprogram-program personal, konsultasi dengan manajemen dan serikat-serikat kerja mengenai konsekuensi kebijakan-kebijakan perusahaan terhadap pekerja, serta bekerja dengan bagian kesehatan dan kepegawaian untuk meningkatkan kondisi lingkungan kerja dan kualitas tenaga kerja (Johnson,1994;Suharto,1997).